Assalamualaikum...




Saya bersyukur sewaktu kecil dulu saya tinggal di lingkungan yang terdapat banyak anak kecil seumuran dengan saya. Hari-hari saya lalui dengan bermain permainan tradisional yang seru.


Petak umpet, demprak, bite tujuh, benteng, polisi maling, petak jongkok, dan lompat karet adalah permainan yang sering saya mainkan bersama teman-teman sewaktu kecil.


Kami semua belum mengenal gadget, ponsel sih sudah ada, tetapi ya permainannya hanya ular saja. Kami lebih memilih berbaur, bermain bersama. Waktu saya kecil sih sudah ada ps1, tapi ya tetap saja kami memainkannya bersama-sama, tidak ada yang asik sibuk sendiri.


Yang Tertua


Sekilas kami nampak seumuran, akan tetapi ada diantara kami yang memiliki umur jauh diatas yang lainnya. Biasanya kalau sudah begitu ia akan dituakan atau menjadi ketua dari kami semua.


Memang tidak ada penobatan, tidak ada voting pemilihan, tidak secara langsung kami menunjuk dia, tapi tetap saja anak-anak yang lainnya akan menganggap begitu. Ia akan menjadi yang dituakan dan biasanya segala jenis aturan yang ada, ia yang menentukan.


Aturan? Yap, saya dan teman-teman itu dalam bermain terkadang memiliki beberapa aturan. Salah satu contohnya adalah jangan adanya rahasia dalam suatu kelompok. Biasanya kan begitu, ada beberapa anak yang main rahasia-rahasiaan, tentang apapun itu dan kami semua menolak adanya seperti itu.


Contoh lainnya adalah saya dan teman-teman punya tradisi memakai warna baju yang sama di malam Minggu. Biasanya, ia yang tertualah yang menentukan warna baju apa yang harus dipakai tiap anak di malam Minggu.


Konflik


Memiliki banyak teman memanglah menyenangkan, karena segala jenis permainan tradisional yang kami mainkan akan terasa lebih seru jika yang main banyak.


Tapi tak bisa dipungkiri, banyaknya orang juga akan menimbulkan berbagai macam konflik. Kesannya serius banget ya hehehe, padahal cuma sekadar marahannya anak-anak kecil.


Konflik yang biasanya terjadi adalah kecurangan dalam bermain. Misalkan saja di permainan petak umpet itu ada istilah kebakaran. Maksud dari kebakaran disini adalah jika si orang yang jaga dibantu oleh orang lain untuk mengetauhi letak atau posisi orang yang bersembunyi.


Jika itu terjadi, seluruh pemain akan berteriak "kebakaran" dan permainan pun diulang.


Nah, kalau sudah begitu suka ada anak yang sudah bersembunyi tidak terima. Anak yang jaga dan sudah tertangkap basah bahwa dia melakulan kecurangan pun terkadang masih membela diri. Alhasil, terjadilah konflik, ya biasanya hanya kata-kataan saja sih.


"Curang lu, gua liat lu dikasih tau sama si Alip tadi." Teriak si anak yang bersembunyi tidak terima.


"Yaelah apaan si? Udahlah, yang jelas nanti lu yang jaga." Balas si anak yang jaga dengan masih melakukan pembelaan.


Ya kira-kira seperti itulah.


Kalau sudah begini harus ada yang mendamaikan agar permainan bisa dilanjut. Jika tidak, mungkin salah satu atau kedua dari anak yang berkonflik tadi akan pulang dan permainan dengan sendirinya berhenti. Karena semua anak sudah merasa tidak ingin memainkan permainan itu lagi.


Tidak ditemenin


Jangan sekali-kali mencari masalah kepada anak yang tertua. Ia memiliki kekuatan, ia didukung dan dibela oleh anak-anak yang lainnya. Jika ia berkata "a" maka yang lainnya pun setuju dengan perkataannya.


Saya dulu pernah bermasalah dengan anak yang dituakan. Saya lupa masalahnya apa, tapi saya masih ingat apa yang terjadi setelahnya. Setelahnya, semua teman pun menjauhi saya, saya dikucilkan atau tidak ditemenin.


Agaknya memang hal itu terlalu nekat untuk saya lakukan, buat apa bermasalah dengannya yang jelas-jelas memiliki kekuatan, didukung banyak anak yang lainnya. Tapi tentu saja ada alasan kuat yang membuat saya begitu.


"Eh temen-temen, ngga usah temenin Ilham yuk." Kata si anak yang tertua atau yang dituakan.


"Ayo, biarin dia sendirian." Seru anak-anak yang lainnya.


Saya pun hanya bisa pulang kerumah sambil menangis. Hari-hari berikutnya saya lalui dengan bermain ps dirumah, setidaknya hal itu bisa mengurangi rasa jenuh dan kesepian yang saya alami.


Sedih? Sudah pasti, bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa terus-terusan melalui harinya tanpa bermain bersama teman-temannya. Tapi syukurlah, biasanya yang seperti itu tidak berlangsung lama. Satu atau dua hari kemudian saya bisa diterima lagi dan dapat bermain bersama lagi.


Saya jadi rindu akan masa-masa itu, walau tak sepenuhnya menyenangkan, tetapi tetap saja rasa hati ingin mengulangnya lagi. Tidak mungkin bisa sih, ya sudah, biarlah semuanya jadi kenangan, toh yang terpenting saya masih memiliki ingatan tentang hal itu.


Saya selalu tersenyum sembari menulis ini. Sobat juga pasti punya pengalaman masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan dan sulit untuk dilupakan, bukan?.


Wassalamualaikum...